GEGAP GEMPITA BUNKASAI UDINUS


Menggelar suatu acara yang konstan dan berkualitas memnag tidak mudah. Namun hal ini bisa dibuktikan oleh Himpunan Mahasiswa Jepang “Hikari” Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) selama dua hari (5-6/5/2018) kemarin. Acara festival budaya Jepang atau yang biasa disebut “Bunkasai” ini telah menjadi agenda tahunan bagi program studi Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Udinus.
 
 
 
“Kami terus pacu untuk semangat mahasiswa dalam menyelenggarakan Bunkasai setiap tahunnya. Dan alhamdulillah tahun 2018 ini adalah tahun ke-11 penyelenggaraan Bunkasai. Antusiasmenya juga luar biasa dari tahun ke tahun,” jelas Tri Mulyani Wahyuningsih, SS, M.Hum selaku Ketua Program Studi Bahasa Jepang Udinus.
 
 
 
Tema Bunkasai 2018 kali ini adalah Owaranai Haru. Owaranai berarti tidak berubah, sedangkan Haru berarti musim semi. “Singkatnya dalam bunkasai kali ini kami ingin membawa suasana keindahgan musim semi yang tidak berubah. Akan terus ada, disambut, dan dikenang,” tambah Tri Mulyani.
 
 
 
Pertunjukan yang disuguhkan ada berbagai macam. Mulai dari lomba band, cosplay, karaoke, dance cover, soranbushi, Tamiya, hingga lomba menggambar manga. Selain berbagai lomba, terdapat juga stan-stan makanan yang menjual makanan khas Jepang, stan penjual pernak-pernik Jepang yang memanjakan para pecinta budaya Jepang. Digelar di pelataran parkir gedung G Udinus  jl. Imam  Bonjol No. 207, lomba Cosplay di ajang Bunkasai ini memang selalu memikat perhatian. Tidak hanya dari Semarang, cosplayer ini juga datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah. “Saya memakai kostum favorit Rumia Tingel dari anime Rokudenashi. Saya juga ikut di komunitas cosplay, karena memang menyukai budaya Jepang dari dulu,” jelas Arfina Shufia dari Kudus.
 
 
 
Selain itu ada juga Taiko, dimana dipersembahkan pertunjukan genderang yang ditabuh. Di Jepang, taiko ini digelar untuk menyemangati, mengatur serta menginstruksi pasukan. Sebagai puncak acara, digelar pesta kembang api yang biasa disebut Hanabi.
 
“Melestarikan budaya Indonesia memang penting, namun mempelajari budaya negara lain tidak kalah penting. Agar mahasiswa Udinus dapat menyerap efek positif dari budaya Jepang,” tutur Agus Triyono, MSi Kahumas Udinus. (*Humas Udinus/Alex. Foto : dok. FIB)

Last Update : 22 Juni 2021