RELEASE PARTY TEALINUX CHAMOMILE OLEH DOSCOM UDINUS


Pengembang TeaLinux yang tergabung dalam Dinus Open Source Community (Doscom) menggelar Release Party TeaLinuxOS 9 di Ballroom Astoria Hotel Dafam di jalan Imam Bonjol Semarang. Doscom merupakan komunitas pegiat Free Open Source Software (FOSS) yang ada di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Acara yang dihelat pada Sabtu (15/5) tersebut juga dibarengi dengan Seminar Nasional yang menghadirkan dua pembicara yakni Iwan S Tohari (Open Source Produk Sepatu Fans) dan Ahmad Harris (CEO dan Founder Kode Kreatif).
 
TeaLinuxOS adalah distro Linux turunan Ubuntu yang dikembangkan oleh Doscom yang berorientasi pada pemrograman. Dengan menganut filosofi “nikmatnya sebuah racikan”, TeaLinuxOS dikembangkan secara terbuka guna menghasilkan distro Linux pemrograman untuk dunia pendidikan. Dukungan kuat dari forum komunitas dunia virtual maupun komunitas riil menjadikan sistem operasi TeaLinux berkembang cepat dan mengalami penyempurnaan menjadi sistem operasi yang stabil dan berkualitas.
 
TeaLinuxOS 9 atau Chamomile ini adalah edisi lanjutan dari TeaLinux Pappermint sebelumnya. “Ada fitur tambahan di Chamomile yakni ModulariTea yang dapat memasang paket aplikasi untuk para pengembang hanya dengan beberapa langkah sederhana,” jelas M. Nurul Irfan salah satu developer Tealinux Chamomile. ModulariTea menyederhanakan proses cari, unduh, dan pasang ke dalam bentuk modul. TeaLinuxOS mengkampanyekan AnTeapiracy yang melawan penggunaan OS bajakan.
 
Iwan mengatakan dibeberapa negara, pemerintahannya sudah mulai melirik FOSS untuk personal computer (PC) yang digunakan. Salah satu negara yang bermigrasi menggunakan FOSS adalah Rusia. Tahun 2015 sebanyak 22 ribu PC di pemerintahan negara tersebut bermigrasi menggunakan FOSS. “Saat ini, Indonesia memang belum siap menggunakan Open Source secara keseluruhan, oleh karenanya kitalah yang memulai,” ujar pengusaha sepatu yang mempelopori menggunakan Open Source dalam perusahaannya tersebut. Di awal migrasi menggunakan FOSS, Iwan mengaku cukup kesulitan karena tidak semua software dapat dioperasikan dengan Linux. “Cara mendukung FOSS tidak harus jadi pengembang, minimal kita pake aja dulu,” tambah Iwan. (*humas) 

Last Update : 16 Juni 2021