PERINGATAN HARI TANPA TEMBAKAU DI UDINUS


Bicara rokok, yang muncul adalah pro dan kontra. Meski bahaya rokok sudah banyak diketahui oleh masyarakat, tetapi perilaku mengkonsumsi bahan adiktif ini masih sangat sulit untuk dikendalikan. Menanggapi pro-kontra ini dan dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Tobacco Free Community (TFC) dan Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (HMKM) Fakultas Kesehatan (FKES) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) bekerjasama dengan Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok (KPKTR) menyelenggarakan talkshow nasional yang membahas bahaya rokok dengan santai dan penuh gelak tawa.

Dalam sambutan pembukaan, Rektor Udinus, Dr. Edi Noersasongko, M.Kom menyatakan bahwa kampus siap mendukung implementasi kawasan tanpa rokok. “Bahkan Udinus sudah menyatakan setiap gedung sebagai kawasan tanpa rokok, serta tidak menerima sponsor dan promosi rokok untuk setiap kegiatan,” tegas Edi.

Sementara itu, Abdul Haris Kepala Biro Hukum Setda Kota Semarang yang hadir mewakili Walikota Semarang, menyatakan pemerintah Kota Semarang masih terus melakukan upaya sosialisasi Perda No. 3 tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). “Dalam Perda tersebut memang tertulis hukuman kurungan 3 bulan dan denda  50 juta untuk pelanggar KTR, penegakan hukum akan segera kami lakukan karena aturan pelaksanaannya sudah siap. Sudah ada Peraturan Walikota (Perwal) dan Surat Keputusan (SK) Tim Supervisi KTR,” jelas Abdul.

Acara talkshow makin semarak dengan hadirnya Bupati Kulonprogo, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). Bupati yang juga Ketua Aliansi Bupati Walikota/Bupati dalam penerapan KTR menyampaikan pengalaman penerapan KTR di Kabaten yang dipimpinnya. Demi mencegah generasi anak-anak dan generasi muda menjadi perokok, Bupati ini turun tangan sendiri untuk menertibkan iklan rokok dan menyatakan Kulonprogo sebagai kawasan bebas iklan rokok. Sedangkan Hanifa Maher Denny, SKM, MPH, PhD, Dekan Fakulotas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip memaparkan pengalaman penerapan pengendalian tembakau di berbagai negara, dimana Indonesia telat tertinggal jauh dalam pengendalian rokok.  

Talkshow nasional ini ditutup dengan penampilan Dodit Mulyanto, finalis SUCI 4. Dengan gayanya yang khas, Dodit menceritakan beratnya melewati operasi jantung akibat perilaku merokok yang ia lakukan sebelumnya. “Jika sudah terjangkit penyakit jantung, dan merasakan hampir mati, kalian baru tahu bahaya rokok, jadi jangan merokok!,” himbaunya. (*humas)

Last Update : 16 Juni 2021